Selasa, 01 Januari 2013

KOMPOS

KOMPOS

    Kompos adalah pupuk yang dibuat dari hasil penguraian aneka bahan sampah organik. Proses terbentuknya kompos dari bahan-bahan organik dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam miroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan aerobik atau anaerobik. Kompos yang memenuhi C/N ratio <20, kadar kadar air dan nutrisi tertentu, dikategorikan ke dalam pupuk organik karena terbuat dari bahan alami yakni berasal dari bahan makhlik hidup.
      Pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis, khusunya oleh mokroba yang memnafaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Membuat kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang seimbang, pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan aktivator pengomposan. 
     Selain mengurangi masalah pembuangan sampah, kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sendiri sehingga akan menghemat pengeluaran pembelian pupuk organik. Selain itu, hasil produksi pupuk organik atau kompos yang kita hasilkan juga dapat kita jual untuk menutup biaya proses pembuatan kompos, lebih dari itu hasil penjualan produksi kompos akan menambah penghasilan.
     Proses pengolahan sampah organik menjadi kompos dapat dilakukan dengan berbagai metode baik secara manual maupun dengan metode/teknologi canggih. Salah satu contoh pembuatan kompos dengan teknologi yang lebih maju yaitu dengan model Rotary Kiln Elektrik. Mau tau infonya ? Klik aja video ini !!!

Sumber : Alex S. Sukses Mengolah Sampah Organik Menjadi Pupuk Organik

Biogas Kotoran Sapi


PEMBUATAN BIOGAS SKALA KECIL

A.       Tujuan        :
1.      Mahasiswa mampu melakukan pengelolaan sampah organik dengan cara pembuatan biogas
2.      Mahasiswa terampil dalam melakukan pembuatan biogas

B.     Dasar Teori
Biogas adalah gas produk akhir pecernaan atau degradasi anaerobik bahan-bahan organik oleh bakteri-    bakteri anaerobik dalam lingkungan bebas oksigen atau udara. Komponen terbesar biogas adalah Methana (CH4, 54-80%-vol) dan karbondioksida (CO2, 20-45%-vol) serta sejumlah kecil H2, N2 dan H2S. Biogas bersal dari hasil fermentasi bahan – bahan oraginik diantaranya (Judomidjojo dkk, 1992) :
1.      Limbah tanaman : tebu, rumput-rumputan, jagung, gandum dan lain-lain.
2.      Limbah dari hasil produksi :minyak, bagas, penggilingan padi, limbah sagu.
3.      Hasil samping industri : tembakau, limbah pengolahan buah-buahan dan sayur-sayuran,  dedak, kain dari  tekstil, ampas tebu dari industri gula dan tapioka, industri tahu (limbah cair).
4.      Limbah perairan : alga laut, tumbuh-tumbuhan air.
5.      Limbah peternakan : kotoran sapi, kerbau, kambing, unggas.

Sistem produksi biogas dibedakan menurut cara pengisian bahan bakunya yaitu  pengisian curah dan pengisian kontinyu (Teguh dan Agung, 2005).
1.      Pengisian curah.
Yang dimaksud dengan sistem pengisian curah (SPC) cara penggantian bahan yang dilakukan dengan        mengeluarkan sisa bahan yang sudah dicerna dari tangki pencerna setelah produksi biogas berhenti dan selanjutnya dilakukan pengisian bahan baku yang baru. Sistem ini terdiri dari dua komponen yaitu tangki pencerna dan tangki pengumpul gas.
2.      Pengisian kontinyu.
Yang dimaksud dengan sistem pengisian kontinyu (SPK) adalah bahwa pengisian bahan baku kedalam tangki pencerna dilakukan secara. Biogas dapat digunakan dalam berbagai keperluan seperti memasak, penerangan, pompa air, boiler dan sebagainya.

Biogas dapat digunakan dalam berbagai keperluan seperti memasak, penerangan, pompa air, boiler dan sebagainya. Manfaat lain energi biogas adalah sebagai pengganti bahan bakar khususnya minyak tanah kemudian sebagai bahan pengganti bahan bakar minyak (bensin, solar). Dalam skala besar, biogas dapat digunakan sebagai pembangkit energi listrik. Di samping itu, dari proses produksi biogas akan dihasilkan sisa kotoran ternak yang dapat langsung dipergunakan sebagai pupuk organik pada tanaman/budidaya pertanian.
Potensi pengembangan Biogas di Indonesia masih cukup besar. Hal tersebut mengingat cukup banyaknya populasi sapi, kerbau dan kuda, yaitu 11 juta ekor sapi, 3 juta ekor kerbau dan 500 ribu ekor kuda pada tahun 2005. Setiap 1 ekor ternak sapi/kerbau dapat dihasilkan + 2 m3 biogas per hari. Potensi ekonomis Biogas adalah sangat besar, hal tersebut mengingat bahwa 1 m3 biogas dapat digunakan setara dengan 0,62 liter minyak tanah. Di samping itu pupuk organik yang dihasilkan dari proses produksi biogas sudah tentu mempunyai nilai ekonomis yang tidak kecil pula.

C.      Alat Bahan
       1.    Alat
              a.  Gelas ukur
              b.  Cetok 
              c.  Ember dan Pengaduk 
              d.  Plastik Transparan dan Karet
              e.  Pipa Plastik/Selang
              f.   Plester/Selotip Transparan 
              g.  APD
              h.  Alat tulis
      2.    Bahan 
             a.  Kotoran Sapi
             b.  Air

D.      Cara Kerja
1.      Menyiapkan alat dan bahan.
2.      Menggunakan APD.
3.      Menghitung volume digester/derijen.
4.      Menghitung kebutuhan bahan kering kotoran sapi dan volume air 
5.      Mengambil kotoran sapi sesuai dengan kebutuhan yang telah ditentukan.
6.      Menyiapkan air sesuai dengan volume yang telah ditentukan.
7.      Mencampur kotoran sapi dan air di dalam ember, selanjutnya diaduk hingga homogen.
8.      Memasukkan campuran tersebut ke dalam bak digester secara perlahan.
9.      Memasang manometer.
10.  Melakukan pengamatan pembentukan biogas dalam jangka waktu harian. 


Berikut ada sumber bagaimana cara membuat biogas skala rumah tangga, selamat menonton !



Senin, 31 Desember 2012

Desinfeksi Air dengan Chlorin Diffuser



Hallo blogger semua,,
Disini saya akan berbagi mengenai desinfeksi air menggunakan Chlorin Diffuser,, sudah tidak asing lagi bukan di telinga kita tentang Chlorin Diffuser tersebut, untuk mengetahui lebih dalam mengenai Chlorin Diffuser tersebut, ayo simak laporan berikut ini :
A.   LATAR BELAKANG
Air merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, bahkan hampir 70% tubuh manusia mengandung air. Dalam memenuhi kebutuhan sehari- hari, air dipergunakan untuk keperluan makan, minum, MCK dan pemenuhan kebutuhan lain. Namun, disamping hal itu air mempunyai peranan besar terhadap penularan penyakit menular seperti kholera, thypus, dan diare. Besarnya peranan air dalam penularan penyakit sangat dipengaruhi oleh kualitas air itu sendiri.
Syarat – syarat kualitas air yang digunakan oleh masyarakat tersebut telah ditetapkan dan diatur dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang syarat – syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Di dalam Permenkes tersebut disebutkan bahwa kualitas air harus memenuhi syarat fisika, kimia, mikrobiologi, dan radioaktif.
Salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas air secara mikrobiologi adalah dengan disinfeksi. Adapun disinfeksi ini dimaksudkan untuk membunuh bakteri patogen (penyebab penyakit) yang penyebarannya melalui air, dengan cara penambahan bahan kimia. Bahan kimia yang paling banyak digunakan untuk mendisinfeksi air adalah chlor dan senyawa chlor yang disebut clhorinasi. Chlorinasi di Indonesia biasanya menggunakan kaporit karena murah, mudah didapat, dan mudah penggunaannya. Untuk memudahkan dalam membubuhkan kaporit kedalam air maka dibuatlah suatu alat pembubuh kaporit yang disebut chlorine diffuser.

B.   KEUNTUNGAN
Keuntungan dari model chlorine diffuser yang akan dibuat antara lain : 
1.    Kualitas air lebih baik.
2.    Mengurangi kemungkinan tertularnya water borne disease.
3.    Mudah dibuat dan dioperasikan.
4.    Mampu menentukan jumlah sisa chlor sesuai dengan yang diharapkan melalui pembedaan jumlah lubang pada chlorine diffuser.

C.   ALAT DAN BAHAN
1.    Pipa 2 inch
2.    Pipa ¾ inch
3.    Dop pipa 2 inch
4.    Dop pipa ¾ inch
5.    Gergaji pipa
6.    Bor pipa
7.    Penggaris
8.    Ayakan pasir
9.    Ember
10. Lem pipa
11. Cat
12. Tiner
13. Kuas
14. Amplas
15. Pasir Kwarsa/ Pasir Kali
16. Kaporit bubuk

D.   CARA PEMBUATAN
1.    Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
2.    Memotong pipa 2 inch sepanjang 40 cm dan pipa ¾ inch sepanjang 44 cm.
3.    Membuat lubang-lubang kecil pada pipa 2 inch dan pipa ¾ inch sebanyak 6-12 lubang (diameter pipa lebih kecil dari diameter pasir).
4.    Melubangi dop pipa 2 inch sebesar diameter pipa ¾ inch
5.    Menutup bagian bawah pipa 2 inch dengan dop pipa 2 inch dan pipa ¾ inch dengan dop pipa ¾ inch, direkatkan dengan menggunakan lem pipa.
6.    Memasang potongan pipa kecil melingkar pada pipa 2 inch sebagai tempat untuk mengikat tali selanjutnya amplas seluruh permukaan pipa 2 inch beserta dop pipa untuk dicat.
7.    Mengecat seluruh permukaan pipa 2 inch sesuai dengan warna yang diinginkan. Tunggu hingga kering.
8.    Mencuci pasir kuarsa/pasir kali hingga bersih dan dijemur sampai kering selanjutnya pasir diayak dengan menggunakan ayakan pasir untuk mendapatkan pasir kasar dan halus.
9.    Menghitung kebutuhan kaporit dan pasir kuarsa/pasir kali sesuai perbandingan (misal 1:3).
10. Mencampur kaporit dan pasir kuarsa/pasir kali halus sesuai dengan perbandingan.
11. Memasukkan campuran kaporit dan pasir kuarsa/pasir kali halus kedalam pipa ¾ inch hingga penuh kemudian tutup dengan menggunakan dop pipa ¾ inch, selanjutnya masukkan pipa ¾ inch yang telah terisi campuran kaporit dan pasir halus ke dalam pipa 2 inch, kemudian ruang antara pipa 2 inch dan pipa ¾ inch diisi dengan pasir kasar.
12. Menutup pipa 2 inch dengan dop pipa 2 inch.
13. Chlorin diffuser siap digunakan.

E.   APLIKASI/CARA PEMASANGAN
·      Pemasangan pada sumur gali dengan kerekan timba
Pasanglah Chlorine diffuser dengan menggunakan tali plastik merapat dinding sumur hingga setengah kedalaman sumur. Ikatkan ujung tali plastik pada tiang penimba atau paku yang ditancapkan pada bibir sumur.
·         Pemasangan pada sumur gali yang dilengkapi pompa listrik
Chlorine diffuser dipasang dekat footklep pada ujung pipa hisap.
·         Pemasangan pada bak penampung air
Chlorine diffuser dipasang pada setengah ketinggian /kedalaman bak bagian dalam.
Pemasangan Chlorine diffuser agar dilakukan pada malam hari pada waktu sarana tidak digunakan, sehingga memberi waktu kontak yang cukup antara kaporit dan air.

F.   CARA PERAWATAN
Chlorin diffuser yang telah digunakan selama ± 10 hari, harus dilakukan penggantian kaporit dengan cara : 
1.    Mengeluarkan pasir dari pipa.
2.     Mencuci pipa, dop dan pasir hingga bersih lalu dijemur hingga kering.
3.    Merakit kembali seperti semula.

 Dalam pembuatannya mudah bukan ? untuk menambah wawasan lagi mengenai Chlorin Diffuser, saya memiliki satu sumber makalah yang berasal dari Universitas Diponegoro, mari kita simak makalahnya...